Perkuat Peran Perpusdes, DPK Babar Gelar Pertemuan Pemangku Kepentingan Tingkat Kabupaten
MENTOK, DPK BABAR — Dalam rangka
mendukung penguatan Budaya Baca dan Kecakapan Literasi bagi Perpustakaan Desa (Perpusdes),
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Babar kembali menggelar Pertemuan
Pemangku Kepentingan (PKK) Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi
Sosial (TPBIS) tahun 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan Senin (10/8/2026)
di Gedung Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bangka Barat tersebut, dihadiri Kepala
DPK Babar, Farouk Yohansyah, Kepala OPD Dikpora, Bapperida, DinsosPMD,
Diskominfo, Ketua POKJA II PKK, Kepala Desa,
BPD, dan pengelola perpustakaan desa se-Bangka Barat.
Selain itu, kegiatan yang merupakan
bagian dari agenda prioritas nasional bertujuan untuk memperkuat peran
perpustakaan umum sebagai pusat pembelajaran masyarakat, sekaligus ruang untuk
membaca, berpikir, dan berkreasi guna meningkatkan kualitas hidup serta
kesejahteraan masyarakat itu, turut dihadiri zoomeeting, Bunda Literasi
Kabupaten Bangka Barat, Evi Astura Markus.
Kepala DPK Bangka Barat, Farouk
menjelaskan, Kegiatan PPK merupakan langkah strategis dalam memperkuat
kapasitas perpustakaan desa sebagai ujung tombak pembangunan literasi di
tingkat desa.
Tujuan kegiatan ini untuk
membangun kesamaan pemahaman dan memperkuat komitmen para pemangku kepentingan
dalam mendukung keberlanjutan Program TPBIS melalui kolaborasi lintas sektor,
penyelarasan dengan kebijakan pembangunan nasional dan daerah, penguatan peran
perpustakaan desa/kelurahan dan pemerintah daerah serta pengembangan sinergi
dan tindak lanjut yang berkelanjutan guna mewujudkan perpustakaan sebagai ruang
berpikir kritis, berkreasi, dan pusat kegiatan pemberdayaan masyarakat.
“Perpustakaan tidak bisa lagi
bekerja dalam ruang yang terpisah dan pembangunan literasi tidak dapat
dilakukan oleh perpustakaan secara sendiri-sendiri. Untuk membangun masyarakat
yang literat, produktif, dan berdaya saing, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Pemerintah daerah, pemerintah desa, dunia pendidikan, komunitas, dunia usaha,
organisasi masyarakat, media, hingga masyarakat pengguna layanan harus menjadi
bagian dari ekosistem literasi,” katanya.
Menurutnya, perpustakaan saat ini
telah mengalami perubahan paradigma. Perpustakaan bukan hanya tempat membaca
dan meminjam buku, tetapi harus mampu menjadi ruang tumbuh masyarakat, tempat
masyarakat memperoleh pengetahuan, mengembangkan keterampilan, membangun
jejaring, berinovasi, dan menemukan solusi terhadap persoalan kehidupan.
“Kami ingin perpustakaan menjadi
ruang yang hidup. Anak-anak datang untuk belajar, remaja datang untuk
berdiskusi dan mengembangkan kreativitas, masyarakat datang untuk meningkatkan
keterampilan, pelaku UMKM memperoleh informasi dan pendampingan, kelompok
rentan mendapatkan akses layanan, dan komunitas memiliki ruang untuk
berkolaborasi,” terang dia.
Konsep tersebut, sambung dia, sejalan
dengan pengembangan inovasi LILIS SEJAHTERA (Lingkaran/Literasi Inklusi Sosial
untuk Kesejahteraan) yang menempatkan literasi sebagai bagian dari proses
pemberdayaan masyarakat. “Melalui LILIS SEJAHTERA kami sudah membuka layanan
pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) dan tahun ini sudah ada 11 desa yang
bergabung,” ungkapnya.
Di PKBM ini, Farouk menyebutkan,
ada paket A, B dan C dan program ini menjadi program unggulan kami. Program
PKBM tidak hanya belajar tetapi diajarkan juga keterampilan-keterampilan yang
akan mendukung kemampuan peserta didik yang putus sekolah yang bisa
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya kegiatan PKBM ini
diharapkan akan membantu diangka lama sekolah dan juga membantu anak putus
sekolah yang ada di desa-desa.
Sekarang, perpustakaan dibebankan
pada peningkatan indeks literasi masyarakat, dan tingkat kegemaran
membaca masyarakat, dan ini adalah tugas bersama karena sekarang sudah
menjadi salah satu poin pendukung
peningkatkan indeks pembangunan manusia.
Pertemuan pemangku kepentingan
tingkat kabupaten ini, menurutnya lagi, menjadi momentum untuk membangun
komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem literasi di Bangka Barat.
“Kami berharap forum ini tidak
berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan kolaborasi konkret. Setiap sektor
memiliki sumber daya, program, dan kapasitas yang dapat disinergikan melalui
perpustakaan. Dengan kolaborasi tersebut, kita dapat membangun ekosistem
literasi yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Terpisah, Bunda Literasi
Kabupaten Bangka Barat, Evi Astura Markus, menyampaikan apresiasi
setinggi-tingginya kepada semua peserta yang
telah hadir secara on-site mengikuti
kegiatan ini begitu antusias.
“Ketika kita berbicara tentang
literasi, mungkin orang awam (umum) mengatakan bahwa literasi itu tentang
membaca, tetapi ternyata literasi bukan hanya tentang membaca buku tetapi tentang bagaimana pengetahuan yang
kita peroleh dapat menguatkan cara berpikir, meningkatkan keterampilan dan pada
akhirnya dapat meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat,” tuturnya.
Perpustakaan, diharapkannya,
dapat menjadi ruang tumbuh masyarakat seperti kegiatan bersama anak-anak PAUD
dan TK, misalnya mereka (PAUD, TK ) diajak berkunjung ke perpusda karena
kegiatanya banyak dan bagi pemuda pemudi bisa mengembangkan kreativitas karena
di perpusda ada ruangan yang dapat digunakan untuk berbagai macam aktivitas.
“Kalau bagi Perempuan,
perpustakaan dapat difungsikan sebagai tempat untuk meningkatkan keterampilan
seperti membuat kue dan lani-lainnya. Bagi ibu PKK diharapkan dapat bersinergi
dengan perpustakaan daerah seperti melaksanakan senam lansia,” ajaknya.
Ia berharap kolaborasi dan
support dari pemerintah daerah terutama OPD
DinsosPMD, Dikpora, pemerintah desa, masyarakat serta dari CSR untuk dapat memperkuat
perpustakaan desa mampu menjadi pusat kegiatan yang memberikan manfaat nyata
bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di Bangka Barat.
“Mari kita hadirkan perpustakaan
yang dekat masyarakat yang memahami
kebutuhan masyarakat dan memberikan
manfaat nyata bagi masyarakat. Jadi, dari perpustakaan kita tumbuhkan
pengetahuan dari pengetahuan kita lahirkan keterampilan dari keterampilan kita ciptakan peluang
dan dari peluang kita jadikan masyarakat yang Sejahtera,” gugah Evi.
Kabid Pembinaan Perpustakaan DPK
Babar, Eka Octawianto menambahkan, PPK tingkat Kabupaten, merupakan refleksi
terhadap kebutuhan perpustakaan untuk bergerak lebih terbuka dan kolaboratif.
“Perpustakaan tidak mungkin
menjadi ruang tumbuh masyarakat jika hanya mengandalkan sumber daya
perpustakaan sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi. Sekolah memiliki peserta
didik, pemerintah desa memiliki masyarakat dan potensi lokal, komunitas
memiliki kreativitas, dunia usaha memiliki sumber daya, akademisi memiliki
pengetahuan, media memiliki kekuatan komunikasi, dan perpustakaan dapat menjadi
simpul yang mempertemukan semuanya,” kata Eka.
Eka berpandangan, pendekatan
tersebut menjadi penting dalam implementasi Transformasi Perpustakaan Berbasis
Inklusi Sosial (TPBIS). Perpustakaan harus mampu mengidentifikasi kebutuhan
masyarakat dan kemudian mempertemukannya dengan sumber daya yang tersedia
melalui kerja sama lintas sektor.
“Kami ingin mengubah paradigma
dari library as a place menjadi library as a platform. Perpustakaan bukan hanya
tempat yang dikunjungi masyarakat, tetapi menjadi platform yang mempertemukan
pengetahuan, masyarakat, komunitas, pemerintah, dan berbagai sumber daya untuk
menghasilkan perubahan,” tegas Eka.
“Penguatan perpustakaan desa
menjadi sangat penting karena memiliki posisi strategis berada paling dekat
dengan masyarakat. Perpustakaan desa harus mampu menjadi pusat belajar dan
pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Karena itu, kolaborasi dengan
pemerintah desa, BPD, PKK, sekolah, komunitas, pelaku UMKM dan kelompok
masyarakat harus terus diperluas,” timpalnya.
Eka menekankan bahwa perkembangan
teknologi digital dan kecerdasan buatan harus menjadi bagian dari transformasi
perpustakaan.
“Generasi muda hidup dalam
ekosistem digital. Karena itu, perpustakaan harus hadir bukan untuk melawan
teknologi, tetapi membantu masyarakat menggunakan teknologi secara cerdas,
kritis, produktif, dan bertanggung jawab. Literasi digital, literasi informasi,
dan literasi AI ke depan harus menjadi bagian penting dari layanan perpustakaan,”
tandasnya.
Menurutnya, kolaborasi lintas
sektor pada akhirnya harus diarahkan pada satu tujuan utama, yaitu menjadikan
perpustakaan sebagai ruang tumbuh masyarakat.
“Kami ingin masyarakat datang ke
perpustakaan bukan hanya karena membutuhkan buku, tetapi karena mereka
menemukan kesempatan untuk belajar, berkarya, berjejaring, meningkatkan
keterampilan, dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Itulah esensi transformasi
perpustakaan yang ingin kita bangun di Bangka Barat,” tutup Eka.
Penulis: ZI
Foto: ZI
Editor” Ahmad